Mengatasi Sindrom Penipu dan Memilih Pengampunan: Pelajaran dari Keluaran & Markus
Mengatasi Sindrom Penipu dan Memilih Pengampunan: Pelajaran dari Keluaran & Markus Temukan bagaimana Tuhan memperlengkapi kita untuk mengatasi rasa tidak aman menggunakan kisah Musa, dan pelajari kekuatan pengampunan radikal melalui teladan Yesus Kristus. Topics: devosional, .
Pengamatan
Hari ini, saya ingin membagikan dua pengamatan dari bacaan saya.
-
Pertama, dari kitab Keluaran, ketika Anda menerima panggilan Tuhan—sama seperti Musa—untuk menyampaikan pesan kepada bangsa Israel dan membantu membebaskan mereka dari Mesir, kita sering kali merasa tidak siap. Kita membuat berbagai alasan untuk membenarkan mengapa kita tidak mampu, bagaimana kita tidak tahu cara melakukan ini atau itu, dll. Sindrom penipu (imposter syndrome) mulai menguasai diri kita. Namun, justru itulah kesempatan untuk menaruh iman kita kepada Tuhan. Kita mungkin merasa tidak tahu cara melakukan X, Y, dan Z, tetapi justru itulah alasan Tuhan memanggil kita untuk melakukan kehendak-Nya—karena Dia memiliki rencana untuk membantu kita dalam perjalanan ini. Kita tidak seharusnya melakukannya sendirian, seperti yang biasa kita lakukan, melainkan dengan bantuan-Nya. Musa sangat sulit menerima hal ini. Dia mengajukan beberapa argumen: Saya tidak pandai berbicara, orang-orang tidak akan mendengarkan saya, siapakah saya hingga bisa meyakinkan Firaun untuk membiarkan umat itu beribadah di padang gurun, dll. Tuhan harus menunjukkan kepadanya bahwa dia akan berhasil bukan karena dia seorang ahli atau dengan kekuatannya sendiri, melainkan karena Tuhan yang akan memperlengkapi dan membantunya melakukannya.
-
Kedua, dari Kitab Markus pasal 15, ketika Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus untuk dijatuhi hukuman, kita melihat dengan jelas kelemahan keadilan manusia. Karena iri hati dan karena mereka percaya Yesus menghujat Allah dengan bertindak sebagai Anak Allah, orang-orang Farisi dan Saduki memengaruhi orang banyak untuk menuntut pembebasan Barabas dan menghukum Yesus Kristus dengan penyaliban. Seorang manusia yang tidak pernah berdosa dan tidak merugikan siapa pun dihukum dengan kematian yang paling menyakitkan dan memalukan pada zaman itu, yang hanya diperuntukkan bagi penjahat terburuk. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa keadilan sejati tidak ada di dunia ini (kita hanya akan menemukannya di Kerajaan Baru). Mereka bahkan mengejek dan mengolok-olok Dia. Namun, Yesus tetap mengampuni mereka di dalam hati-Nya dan memberikan keselamatan bagi kita semua (termasuk mereka yang menyakiti-Nya). Ini adalah teladan yang sangat baik bahwa apa pun yang orang lakukan kepada kita di bumi ini, kita harus selalu mengampuni mereka—seberat apa pun itu. Yesus adalah satu-satunya manusia yang sempurna, dan Dia mengampuni kita semua yang mengkhianati-Nya tanpa alasan. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen, teladan Dialah yang harus selalu kita ikuti, bukan teladan orang lain. Meskipun demikian, mengampuni adalah hal tersulit untuk dilakukan, terutama ketika kita memiliki setiap alasan untuk tidak melakukannya.